Tampilkan postingan dengan label Teori Bermain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Bermain. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2018

Karakteristik Anak kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar Umur 6-8 Tahun


Karakteristik anak  kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar pada dasarnya adalah masa bermain. Dalam pendidikan jasmani perlu mengerti kesenangan anak itu sendiri. Pada anak-anak umur ini perkembangan otot-otot dan kemampuan koordinasi meningkat. Untuk mengetahui jenis kegiatan ataupun permainan yang disenangi, dapat dilihat alat-alat permainan apa saja yang dipegang ataupun diperhatikan.
Karakteristik Fisik
  1. Waktu reaksi lambat; koordinasi jelek. Memerlukan berbagai kegiatan yang menggunakan otot-otot besar. Gemar berkelahi, kejar-mengejar, buru-memburu dan memanjat.
  2. Aktif, semangat dan mearuh perhatian terhadap suara-suara atau bunyi-bunyian yang teratur.
  3. Tulang-tulang msih lemah dan mudah berubah bentuk.
  4. Jantung mudah terganggu.
  5. Perkembangan perasaan menentukan sesuatu dan persepsinya.
  6. Koordinasi mata dan tangan berkembang. Masih belum dapat menggunakan kelompok otot-otot kecil.
  7. Kesehatan umum tidak stabil, mudah sakit dan daya tahan kurang.
  8. Mulai terjadi pergantian gigi susu.
  9. Selalu bergerak lari, memanjat, duduk, istirahat sebentar, lari lagi dan sebagainya.

Karakteristik Kecerdasan
  1. Kemampuan pemusatan perhatian terbatas.
  2. Kesenangan dan keinginan menemukan masalah-masalah. Keinginan memiliki.
  3. Berkembangnya kemampuan organ-organ percakapan/bicara.
  4. Kegemaran mengulang-ulang macam-macam kegiatan.
  5. Kemampuan berpikir terbatas.
  6. Selalu tertarik hampir dalam setiap hal.
  7. Hasrat/keinginan berkreasi, khayalan tinggi.

Karakteristik sosial dan Emosional
  1. Hasrat besar terhadap hal-hal yang bersifat drama, khayalan dan meniru.
  2. Suka bertengkar, buru-memburu dan memanjat.
  3. Adanya perasaan benar akan hal-hal yang disetujui dan yang memuaskan dirinya.
  4. Gemar akan alam dan cerita-cerita.
  5. Dalam bermain, kebanyakan anak-anak ingin turut serta sebanyak mungkin. Dalam bermain lebih baik dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 3-4 orang.
  6. Tidak suka sering atau banyak dikritik.
  7. Tidak suka memberi maaf.
  8. Senang menjadi pusat perhatian.
  9. Mempunyai sifat berani, individualistis, ingin bebas, ingin semaunya sendiri.
  10. Teman akrabnya bersifat sebentar dan selalu berganti dari saat kesaat.

Demikian artikel tentang Karakteristik Anak kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar Umur 6-8 Tahun, jangan lupa share jika bermanfaat. 


Rabu, 01 Maret 2017

Konsep dan Pengertian Pendidikan Jasmani

Konsep dan Pengertian Pendidikan Jasmani – halo sobat pembaca sering kita bertanya apa pengertian pendidikan jasmani? Dan masih banyak yang bingung juga konsep tentang pendidikan jasmani. Mari kita bahas ulasan tersebut semoga bermanfaat.
 

     Pengertian pendidikan jasmani di Indonesia mempunyai harapan seperti yang tercantum pada ketetapan MPR No. II/MPR/1988, yang berbunyi sebagai berikut:
Pembinaan dan pengembangan olahraga merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia yang ditujukan kepada peningkatan kesehatan jasmani dan rohani seluruh masyarakat, pemupukan watak, disiplin, dan sportivitas, serta pengembangan prestasi olahraga yang dapat membangkitkan rasa kebanggan nasional. Sehubungan dengan itu perlu ditingkatkan pendidikan jasmani dan olahraga di lingkungan sekolah, pengembangan olahraga prestasi, upaya memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. (DITJENDIKTI DEPDIKBUD 1988: 152)

Konsep Tentang Pedidikan Jasmani
     Untuk memenuhi harapan seperti yang tercantum dalam ketetapan MPR No.II/MPR/1988, maka Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan DIRJENDIKTI DEPDIKBUD merupakan konsep pendidikan jasmani sebagai berikut:
1. Pendidikan jasmani merupakan proses interaksi antara peserta didik dan lingkungan yang dikelola melalui aktivitas jasmani secara sistematik menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhnya (DIRJENDIKTI, 1991: 10)
2. Rijsdorp (1971: 30) mengatakan bahwa pendidikan jasmani itu pendidikan. Dan pendidikan yang menolong anak, dan orang muda menuju kedewasaanya. Selanjutnya dikatakan juga bahwa pendidikan jasmnai itu merupakan pergaulan pendidikan dalam bidang gerak dan pengetahuan tubuh.
3. Bucher (1960: 40) berpendapat bahwa pendidkan jasmani itu merupakan bagian dari proses pendidikan umum, yang bertujuan untuk mengembangkan jasmani, mental, emosi dan sosial anak menjadi baik, dengan aktivitas jasmani sebagai wahananya.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani itu merupakan pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani para peserta didik. Demikian bahasan tentang konsep dan pengertian pendidikan jasmani yang bisa kita simak bersama-sama, jangan lupa like fanspage FB & share yaa semoga bermanfaat.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan Pendidikan Nasional – Apkah tujuan pendidikan nasional itu? Pasti sobat pembaca bertanya-tanya sebenarnya kita sekolah itu untuk apa? Nah sudah jelas di Negara kita ini wajib belajar adalah 9 tahun, dan hampir semua anak sekarang ini mendapatkan sekolah di masa kecilnya, berbeda dengan jaman dahulu jangankan untuk sekolah untuk makan saja masih susah.
Kali ini kita akan membahas beberapa tujuan pendidikan nasional, semoga beranfaat.

Mengajar merupakan peristiwa bertujuan, berarti bahwa mengajar merupakan peristiwa yang terkait oleh tujuan, dan dilaksanakan semata-mata untuk mencapai tujuan itu (Winarno Surachmad, 1976:24). Ini berarti bahwa pendidikan merupakan usaha menuju kepada tujuan yang dicita-citakan. Cia-cita atau kehendak bangsa Indonesia dalam usaha pendidikannya tertuang dalam Ketetapan-ketetapan MPR. Adapun masalah pendidikan yang tercantum dalam MPR itu telah pula dirumuskan dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989, tentang Pendidikan Nasional, sedang tujuan pendidikan nasional tercantum pada BAB II pasal 4 yang berbunyi sebagai berikut:

         Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (SEKKAP RI, 1989: 4)

       Jadi nyata sekali bahwa tujuan pendidikan nasional Indonesia mempunyai sasaran seluruh aspek pribadi manusia atau manusia seutuhnya. Yang dimaksud dengan aspek pribadi manusia ialah aspek jasmani, aspek kejiwaan, aspek sosial, aspek makhluk Tuhan.  Kalau yujuan pensisikan nasional kita telaah, maka tujuan pendidikan itu dapat digolongkan dalam 4 kelompok sebagai berikut:
1. Norma atau nilai, yang merupakan budaya bangsa timur pada umumnya, jadi termasuk Indonesia. Norma itu mengehendaki manusia berbudi luhur, berbudi pekerti baik, dan atau mempunyai kepribadian yang kuat. Norma itu sendiri akan terkait iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Jasmani, sehat dan terampil.
3. Psikis atau kejiwaan, menjasi anak cerdas, bebas dari kebodohan dan mempunyai kepribadian yang mantap dan mandiri.
4. Rasa sosial, rasa bertanggung jawab kemasyarakatan, mempertebal rasa kebangsaan atau rasa cinta tanah air, dan rasa kesetiakawanan sosial.

     Untuk mencapai empat sasaran aspek pribadi manusia maka dalam pengajaran para pendidikan harus dapat menentukan sesuatu yang tepat dan berguna bagi anak didiknya. Tepat dan berguna disini bermakna bahwa sesuatu itu harus sesuai degan keadaan, kemampuan, dan kebutuhan anak serta bagaimana kegunaan sesuatu itu untuk membentuk kepribadian anak sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Semoga bermanfaat sobat, jangan lupa like fanspage & share yaa.
     

Makna dan Sifat Bermain dalam Pendidikan

Salam olahraga - kali  ini kita akan membahas tentang Makna dan Sifat Bermain dalam Pendidikan. 
Sobat pembaca jenis permainan yang dimainkan oleh anak sangat ditentukan oleh umur anak. Hal ini disebabkan oleh kemampuan anak dan juga oleh kesenangan anak. 

Berikut ini adalah sifat bermain:
1.     Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan dengan sukarela atas dasar rasa senang.
2. Bermain dengan rasa senang, menumbuhkan aktivitas yang dilakukan secara spontan.
3. Bermain dengan rasa senang, untuk memperoleh kesenangan, menimbulkan kesadaran agar bermain dengan baik perlu berlatih, kadang-kadang memerlukan kerja sama dengan teman, menghormati lawan, mengetahui kemampuan teman, patuh pada peraturan, dan mengetahui kemampuan dirinya sendiri.

Permainan anak-anak biasanya ada dua macam, yaitu permainan dengan peraturan yang dibuat oleh mereka sendiri, biasanya mereka akan bermain dengan patuh untuk menepati perauran-peraturan yang mereka sepakati. Siapa yang curang atau ingkar dari peraturan, akan mendapat cemooh atau ejekan dari teman yang lain. Keadaan ini memberikan kesempatan kepada anak untuk memiliki sifat kreatif, mematuhi kesepakatan yang mereka buat, dan mereka sanggup bermain bersama dan menjadi wasit bersama. Jenis permainan yang kedua adalah permainan yang diberikan oleh orang dewasa, baik guru pendidikan jasmani, orang tua atau dari pendidi yang lain. Permainan yang diberikan oleh orang dewasa ini pada umumnya mempunyai tujuan untuk mempengaruhi anak agar dapat berkembang sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Jasi anak itu bermain, baik yang disengaja maupun tidak disengaja mengakibatkan seluruh aspek pribadinya berkembang. Dengan demikian dapat diartikan bahwa dengan wahana bermain dapat dicapai peningkatan kualitas manusia.

Permainan sebagai wahana pendidikan akan memperoleh kesuksesan apabila guru pensisikan jasmani memahami peranan permainan dalam pendidikan, memilh jenis permainan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, mengetahui kebutuhan anak, dan dapat menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan keadaan anak.


Rabu, 15 Februari 2017

Penjelasan dan Pengertian Teori Bermain Menurut Para Ahli

Salam Olahraga ... Berikut adalah Penjelasan dan Pengertian Teori Bermain Menurut Para Ahli .

Sobat pembaca dengan semakin maraknya dunia pendidikan jaman sekarang, mencari info apapun dapat dicari di internet. Artikel ini adalah kutipan yang saya buat dari sumber buku Dirjen Dikti tentang pandagan psikolog dan Biolog teori bermain, semoga bisa menambah wawasan para sobat sekalian.



Bigot, Kohnstam dan Palland, dan Rob dengan Leertouwer mengutarakan beberapa pendapat para pakar tentang bermain yaitu sebagai berikut:
  1. Teori rekreasi atau teori pelepasan 
Teori ini diutarakan oelh bangsa Jerman, yang bernama Schaller dan Lazarus, menerangkan bahwa permainan itu merupakan kegiatan manusia yang berlawanan dengan kerja dan kesungguhan hidup, tetapi permainan itu merupakan imbangan antara kerja dengan istirahat. Orang yang merasa penat, ia akan bermain untuk menadakan pelepasan agar dapat mengembalikan kesegaran jasmani maupun rokhani.
2. Teori surplus atau teori kelebihan tenaga
Teori ini diutarakan oleh Herbert Spencer, seorang bangsa Inggris, ia mengatakan bahwa kelebihan tenaga (kekuatan, atau vitalitas) pada anak atau orang dewasa yang belum digunakan, disalurkan untuk bermain. Kelebihan tenaga dimaksudkan sebagai kelebihan energi, kelebihan kekuatan hidup, dan vitalitas, yang dianggap oleh manusia untuk memelihara lewat permainan.
3. Teori teleologi
Karl Groos seorang bangsa Jerman mengatakan bahwa permainan mempunyai tugas biologik, yang mempelajari fungsi hidup sebagai persiapan untuk hidup yang akan datang. Pengutaraan teori ini merupakan pengutaraan yang paling terkenal dan pengutraan tentang permainan yang dapat diterima.
4. Teori sublimasi
Teori ini diutarakan oleh seorang bangsa Swiss yang bernama Ed Claparede. Dia mengutarakan bahwa permainan bukan hanya mempelajari fungsi hidup (teori Groos), tetapi juga merupakan proses sublimasi (menjadi lebih mulia, tinggi atau indah), ialah dengan bermain, insting rendah akan menjadi tingkat perbuatan yang tinggi.
5. Teori Buhler 
Carl Buhler seorang Jerman mengatakan bahwa permainan itu kecuali mempelajari fungsi hidup (teori Groos), juga merupakan "Funktion Lust" (nafsu berfungsi", dan juga merupakan "Aktivitas Drang" (kemauan untuk aktif). Selanjutnya ia mengatakan bahwa bila perbuatan seperti berjalan, lari dan lompat itu mempunyai kegunaan bagi kehidupannya kelak, di samping itu haruslah anak mempunyai kemauan untuk berjalan, lari dan lompat.
6. Teori reinkarnasi
Adapun maksud teori ini tersebut adalah bahwa anak-anak selalu bermain dengan permainan yang dilakukan oleh nenk moyangnya. jadi anak selalu bermain permainan yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu.
Demikian artikel yang saya kutip dari buku Dirjen Dikti jangan lupa untuk share dan like fanspage nya yaa.. salam cerdas.